Rayakan Pesta Demokrasi Dengan Gembira Ria Jangan Dengan Pertengkaran Dan Permusuhan

Rayakan Pesta Demokrasi Dengan Gembira Ria Jangan Dengan Pertengkaran Dan Permusuhan
Dokumentasi SANTALA

 Ditulis oleh : Andy Tirta*


Pilpres 2019, aku masih mudah tersinggung dan emosional. 
Sedikit saja kubu lawan mencela capres pujaanku dan dukunganku, akupun mengamuk. Kata-kata berduri dan kasar pun beterbangan. Perang medsos pun terjadi.

Pada pilpres 2024 yang sudah di ambang pintu, aku sudah paham dan aku tidak akan emosional dan mudah terpancing emosi. 
Aku lihat di medsos sudah mulai memanas. Yang awalnya kawan pun menjadi lawan. 

Aku memperhatikan di WAG-WAG. Perilaku para anggota di WAG yang saling membela capres-cawapresnya sekaligus saling mencela kubu lawan. 
Aku tertawa geli sendiri melihat tingkah polah kawan-kawan di medsos. 
Yang satu posting materi mengungkap kelemahan capres-cawapres lawan, yang lainnya pun membalas merespon dengan ketus. Begitu terus. 
Kompor dinyalakan. Api berkobar-kobar. Panas. Memanas. 

Apa yang mau dibela? Belalah dirimu sendiri, anak istri suami. Belalah keluargamu. 
Belalah tetanggamu yang miskin tak punya uang berobat atau miskin tak bisa menyekolahkan anaknya.
Belalah bangsamu apabila dijajah oleh bangsa lain. 

Tentang pilpres janganlah sampai membela membabi buta sampai harus mengorbankan pertemanan dan memutuskan tali persahabatan.

Siapapun yang menang dan terpilih jadi presiden harus kita akui dengan sportif. Itulah Presiden Republik Indonesia. Itulah Presiden kita semua. 

Jadi, di saat-saat pilpres seperti ini, boleh-boleh saja dan sah-sah saja memberikan dukungan dan menjadi relawan untuk memenangkan capres-cawapres yang menjadi idola dan pujaan kita. Yang kita nilai memiliki kinerja dan track record yang bagus. Yang bisa kita percaya dan andalkan. Silakan.

Namun, tidak perlu dan tak usah harus sampai bermusuhan. Kawan menjadi lawan. Saling hujat. Saling hantam.

Pilpres itu adalah Pemilu. Untuk melaksanakan Konstitusi. Itu hak konstitusional rakyat. Pemilu itu adalah Pesta Demokrasi. Pesta Demokrasi itu adalah Pesta Rakyat. Yang namanya pesta tentu harus dirayakan dengan gembira ria dan gegap-gempita. Bukan dengan keributan, pertengkaran, permusuhan, saling cela-mencela, saling hujat-menghujat. Saling hantam-menghantam.

Mari kita sebagai anak bangsa mulai belajar dewasa. Belajar menjadi pinter dan pandai dan bijak. Jangan tidak maju-maju. Jangan bertambah bodoh. 
Jangan pula dibodoh-bodohi terus.

Ingatlah pengorbanan para pahlawan dalam memerangi dan mengusir penjajah asing. Dengan mengorbankan harta, darah, dan nyawa. Demi untuk merebut kemerdekaan. Para pahlawan telah gugur dalam mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan. Dengan mengorbankan harta, darah, dan nyawa. 

Kawan, kau sudah mengorbankan apa buat negeri tercinta ini?

Sekarang kita sudah merdeka, Kawan. 
Hayuuuk, kita bersatu padu membangun nusa dan bangsa. Mengejar ketertinggalan. 
Bukannya saling hujat saling hina saling hantam. 

Ingat ikrar Sumpah Pemuda, Kawan.
Mari kita satukan barisan. Kita saling berjabat tangan. Saling menggenggam erat kuat bersama-sama berpartisipasi, berkontribusi, dan berkolaborasi dalam membangun bangsa dan negara di era pasca kemerdekaan.

Bukannya kita mengisi era pasca kemerdekaan ini dengan menebar kebencian: saling hantam, saling cela, saling perang saudara!

Merdeka!

Salam Pancasila.

*Andy Tirta, Ketua Umum Barisan Pencinta Pancasila (SANTALA)