Membaca Kebodohan Di Media Sosial

Membaca Kebodohan Di Media Sosial

Lahirnya media sosial melalui internet jelas membawa manfaat bagi manusia sejagad. Setiap orang kini dengan mudah mendapatkan informasi baru mengenai apa saja, bahkan mengenai peristiwa yang baru saja terjadi di belahan bumi nun jauh di sana. Setiap orang dengan mudah dapat menyapa keluarga, teman, kekasih dan siapa saja di mana pun mereka berada.

Ke mana pun kita pergi, tidak pernah kita tidak menyaksikan orang sedang memainkan telepon genggamnya. Bahkan seorang pekerja rumah tangga pun menyempatkan diri memainkan telepon genggamnya di tengah tugasnya sedang membersihkan lantai. Manfaat media sosial sangat jelas dirasakan oleh semua orang. Tetapi tentu manfaat itu juga mudah disalahgunakan oleh para manusia yang bermental jahat. Beberapa kejahatan telah terungkap yang dilakukan dengan perantaraan media sosial, seperti penipuan dan kejahatan seksual. Selain itu banyak orang tidak menyadari bahwa melalui komentar di media sosial orang sejagad dapat menyaksikan kebodohannya kalau komentar itu salah.

Membaca banyak komentar atau tulisan di grup WA, FB, Instagram, messenger sering saya merasa kasihan karena si penulis menganggap apa yang ditulis sudah benar. Padahal salah dan menyesatkan. Sebagai contoh kini ketika virus Corona menyerang Tiongkok dan menyebar ke banyak negara, banyak sekali orang berkomentar mengenai virus itu dan penyakit yang ditimbulkannya. Padahal mereka tidak punya dasar pengetahuan tentang itu. Maka komentarnya sungguh menggelikan sekaligus menjengkelkan. Sangat banyak komentar yang dapat dibaca melalui media sosial yang sebenarnya menunjukkan kebodohan penggunanya. Latar belakang mereka beragam, mulai dari tokoh agama, pejabat setingkat Menteri, Dirjen, politisi, dokter, artis, pekerja lain, dan yang tak jelas latar belakangnya.

Kebodohan yang diungkap melalui media sosial tentu berbahaya karena banyak orang yang tidak mengerti menganggap itu benar. Akibatnya muncul reaksi yang mungkin berpihak pada kesalahan akibat kebodohan itu. Maka muncullah berbagai keributan yang mengganggu ketenangan hidup bermasyarakat. Tentu keadaan ini merugikan kita semua. 

Maka tidak berlebihan kalau saya berikan saran berikut ini.

  1. Kalau ingin berkomentar di media sosial, mengertilah lebih dulu apa yang akan dikomentari. Supaya mengerti benar, carilah informasi dari sumber yang benar dulu,
  2. Jangan menggunakan media sosial untuk mencari keuntungan materi dengan mengiklankan dan menjual sesuatu yang tidak jelas manfaatnya. Ini banyak terjadi antara lain pada produk kesehatan abal-abal, yang bahkan dijual oleh dokter,
  3. Jangan sengaja sebarkan informasi kalau mengetahui akan menimbulkan keributan di masyarakat karena masih banyak masyarakat yang tidak menggunakan otak, melainkan otot. Jadi hati-hatilah berkomentar di media sosial, atau banyak orang mengetahui kebodohanmu.  

*Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila – Dewan Penasihat Barisan Pencinta Pancasila (SANTALA).
Catatan ringan:  Wimpie Pangkahila